banner

Anak Empat Tahun Bisa Membaca? Pasti Dipaksa Orang tuanya.

Post a Comment

Anak empat tahun


Hai, Parents. Baru-baru ini ramai pernyataan yang menentang keras mengajari anak usia dini membaca, menulis dan berhitung. Karena di usia itu adalah waktu mereka bermain sepuasnya. Tapi kalau tiba-tiba si anak empat tahun bisa membaca dengan cukup lancar, gimana respon parents?

Ini terjadi sama anak pertamaku yang baru berusia empat tahun. Tanpa ekspektasi sama sekali, Khalfan bisa membaca dengan cukup lancar di usia dini. Sebelumnya memang Khalfan sudah dikenalkan sama buku bacaan. Dan dia sendiri punya ketertarikan buat belajar membaca sejak dini.

Trus gimana sama teori parentingnya? Mari kita bahas pelan-pelan.

Buku dan Kemampuan Berkomunikasi

Jadi, di usia Khalfan empat bulan aku mulai rajin beli dan bacain buku buat dia. Buku pertamanya yang aku beli waktu itu satu set buku bantal bertema mantra ajaib, tolong, terimakasih dan maaf.

Walaupun sempat terdistraksi sama gadget di awal-awal masa MPASI-nya dulu, tapi aku mencoba kembali ke jalur. Nggak ada tema khusus dan nggak ada budget khusus tiap bulan juga buat membeli buku. Aku membacakan buku apa aja yang aku temui di rumah. Tentunya yang masih aman buat seusianya ya, gaes!

Dan terbukti, membacakan buku buat bayi tuh berpengaruh banget sama perkembangan komunikasinya. Perkembangan komunikasi Khalfan lebih menonjol ketimbang perkembangan fisiknya. Dia lebih dulu bisa ngomong dari pada jalan. Bahkan, Khal sempat diterapi karena belum nunjukin tanda-tanda bisa jalan di usianya 18 bulan.

Beda nih sama komunikasinya yang bisa dibilang lebih duluan muncul, lancar dan jelas. Dan aku masih meyakini sih ini salah satunya karena sering distimulasi dengan buku-buku bacaan, juga interaksinya sama kami sebagai orang tuanya tanpa bahasa bayi.

Sedangkan stimulasi motoriknya, aku akui memang kurang. Dan masih terus aku usahakan buat dipenuhi sampai hari ini. Walaupun pastinya, daya tangkap dan kesanggupan setiap anak berbeda ya, Bun.

Nah, perkenalannya sama huruf-huruf masih berlanjut. Sejak usia dua tahunan, Khal sudah hafal abjad tanpa disengaja. Iya, tanpa disengaja karena mainan puzzle yang dibelikan sama budenya pas pulang kampung. Ini juga jadi bibit-bibit anak empat tahun bisa membaca, sih.

Lalu, apakah ini semacam pemaksaan dari orang tuanya?

Anak Empat Tahun Bisa Membaca


Bisa membaca


Tepat di usianya ke empat, Khal meminta buat didaftarkan sekolah secara offline. Gegara di usia sebelumnya Khal sempat beberapa kali aku ikutkan hafalan surat pendek dan pra sekolah secara daring. Beberapa kali juga, aku ajak dia ke sekolah TK terdekat dari rumah. Karena itu lah dia mulai tertarik pengin sekolah.

Setelah aku jelaskan pakai bahasa yang sederhana tentang enak dan nggak enaknya sekolah offline, dia tetap yakin memilih buat didaftarin. Bahkan dia sendiri yang pilih sekolahnya dari dua pilihan yang kita survey sama-sama.

Ini juga dikarenakan Khalfan nggak punya teman seusianya di sekitar rumah, gaes. Di perantauan ini, kami benar-benar jauh dari sanak saudara. Demi tetap mengembangkan respon sosialnya, aku memang berniat mendaftarkan dia ke sekolah di usianya yang ke-empat.

Hobi Khalfan membaca masih berlanjut, lebih tepatnya, sih, minta dibacain sama ibu. Dari beberapa buku yang dia punya, buku tentang segala jenis dinosaurus lagi jadi favoritnya sekarang. Aku sendiri sebagai ibu percaya aja, sih, sama kemauannya buat bisa membaca. Terlihat waktu dia antusias banget sama buku. Apalagi tentang dinosaurus.

Di beberapa kesempatan, Khal juga sudah bisa berhitung. Penambahan dan pengurangan sederhana juga sudah bisa dikuasainya. Cuma memang, responnya kurang antusias di situ. Dan kami nggak memaksakannya buat suka berhitung.

Lalu, peran kami sebagai orang tua gimana menanggapinya? Tentu sebisa mungkin kami mengarahkan dan memfasilitasi sesuai dengan ketertarikannya.

Berhubung anak ini sudah hafal abjad dan sudah terlihat ketertarikannya sama buku, sebagai ibu yang lebih sering sama-sama dia, aku suka kasih pancingan. Supaya dia penasaran dan bertanya gimana caranya membaca.

Naluriku sebagai ibunya cuma berusaha percaya sama apapun pilihan anak. Aku berusaha menangkap dan menanggapi respon dari Khalfan sendiri. Walaupun katanya, ketertarikan itu mungkin nggak akan bertahan lama. Nggak masalah buat aku. Setidaknya, aku bisa memberi respon yang sesuai sama apa yang sedang dia sukai.

Katanya, mengajari anak usia dini calistung, bisa mengakibatkan berkurangnya minat belajar si anak di kemudian hari. Insya Allah, ini bisa diatasi. Selama anak itu merasa nyaman tanpa paksaan dan kekerasan, kenapa nggak dikasih kesempatan?

Lalu balik lagi, gimana caranya anak empat tahun bisa membaca?

Ya karena itu tadi, gaes. Khalfan memang punya kemauan yang kuat pengin bisa membaca buku dinosaurusnya. Bahkan Khal terus-terusan nanya tuh bacaan yang benar setiap nemuin tulisan di mana-pun. Di jalanan, di warung makan, di pintu, di mobil pokoknya di mana-mana.

Tau kan pasti gimana rasanya, dulu waktu kita awal-awal bisa membaca, penginnya bacain segala macam susunan huruf yang kita temui juga. Berasa sudah paling keren aja tuh bisa membaca. Cieeeh.

Nah, mencoba menanggapi ketertarikan Khalfan lagi, awalnya aku kenalin dia sama huruf vokal a,i,u,e,o. Berlanjut dikenalin gabungan dua suku kata, dan terus meningkat pelan-pelan.

Tapi namanya anak-anak, nurutin sekehendak mood-nya aja, kan. Makanya aku sendiri nggak berekspektasi lebih, sih, kalau anak empat tahun bisa membaca dengan lancar dan tanpa mengeja. Masya Allah.

Sampai suatu hari, dia benar-benar mulai merangkai huruf demi huruf di buku favoritnya. Kata demi kata yang awalnya masih gagap, cuma dalam waktu kurang dari satu bulan, Khal sudah bisa membaca dengan lancar dong. Sebuah kejutan manis, sih, buat aku pribadi, saat melihat anak empat tahun bisa membaca. Gemes. Masya Allah.

Sejak saat itu, semakin lah tiada hari tanpa membaca si buku dino. Walaupun anak empat tahun sudah bisa membaca sendiri, setiap malam masih nggak boleh absen giliran ibunya yang membacakannya buku. Tetap ya, gaes, bonding harus dijaga.

Mungkin hal semacam ini sangat biasa bagi kebanyakan orang, ya. Tapi bagi aku ini sebuah kebahagiaan tersendiri. Karena dari situ juga, hampir setiap hari bermunculan beragam pertanyaan unik yang semakin bikin ibu dan bapaknya melongo. Nalar dan kepekaan Khalfan jauh lebih terlihat lagi setelah dia bisa membaca. Masya Allah. Tabarakallah.

Melihat anak tertarik sama buku, apalagi anak empat tahun bisa membaca gitu, rasanya jauh lebih bikin tenang. Dibandingkan melihat anak-anak sibuk sama gadget-nya.

Aku pribadi, punya pengalaman buruk soal gadget dan anak soalnya. Makanya sebisa mungkin, aku akan membatasi penggunaan gadget buat anak-anakku. Kalau pun waktunya buat mereka main sama gadget, sejauh ini selalu di bawah pengawasanku.

Penutup


Teori



Aku nggak mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan para ahli itu salah, ya, gaes. Benar, kalau dunia anak usia dini adalah bermain. Kita sebagai orang tua nggak seharusnya memaksakan kehendak pada anak. Dalam hal apapun itu. Termasuk di sini dalam hal mempelajari calistung.

Tapi sebagai ibu, kita pasti tahu keadaan dan kenyamanan anak kita sendiri. Naluri ibu pasti berperan amat penting dalam keputusan yang kita ambil buat anak sendiri. 
Tentunya, nggak akan putus juga doa supaya anak-anak kita selalu diberikan kemudahan dalam setiap langkah kehidupannya.
Nggak semua teori parenting bisa berlaku di setiap keluarga. Ambil yang baik-baiknya, terapkan dan sesuaikan sama nilai yang pengin kita bangun di dalam keluarga kita sendiri. Nggak perlu juga saling mencaci ya, gaes, ya.

Anak empat tahun bisa membaca memang bukan sebuah keajaiban. Bukan sebagai gaya-gayaan juga. Tapi pada dasarnya, perkembangan setiap anak berbeda-beda. Khalfan bisa membaca, belum tentu sudah jadi yang terbaik di antara anak lainnya. Tapi pastinya, dia selalu jadi yang terbaik di mata kedua orang tuanya.






halodwyta
Halo, aku Dewi Yulia. Suka jalan-jalan, sambil review makanan dan tempat-tempat seru lainnya.

Related Posts

Post a Comment